Senin, 03 Mei 2010

Kajian Ayat Al-Quran Surat At-Taghabun Ayat 16

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia memiliki sumber rujukan atau pedoman hidup yang dapat menuntun menuju ke arah yang benar dan lebih baik. Sumber Islam yang pertama adalah Al-Quran. Merupakan wahyu yang telah sangat sempurna diturunkan kepada manusia melalui Nabi Muhammad SAW dan menetapkan Islam sebagai agama yang diridhai Allah SWT.
Al-Quran memberikan dasar-dasar nilai kepada manusia sampai berakhirnya sejarah manusia di akhir zaman dan tidak akan ada lagi wahyu yang turun atau rasul yang diutus Allah SWT. Sehingga bersifat mutlak dan berlaku universal serta abadi sampai kiamat. Al-Quran merupakan kitab petunjuk hidup manusia agar memperoleh kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Karenanya diturunkan untuk menjelaskan segala sesuatu secara global dan tiang kokohnya umat Islam.
Dalam penulisan makalah ini, saya akan mengkaji tentang ayat Al-Quran yaitu Q.S.At-Taghaabun : 16 yang membahas tentang sifat kikir yang merupakan salah satu akhlak mazmumah ( tercela ). Pada ayat ini terdapat asbabun nuzul yang akan dibahas di bab selanjutnya.

1.2 Rumusan Masalah
Sebagai umat muslim tentu kita mengetahui banyak penyakit hati yang dimiliki manusia.Salah satu sifat itu adalah sifat kikir yang dapat merusak iman seorang muslim.Sifat kikir banyak dimiliki oleh orang-orang yang tidak mau berbagi dengan sesama.Kebanyakan mereka yang memiliki sifat kikir karna kurangnya rasa bersyukur terhadap Allah SWT,padahal sifat ini sangat tercela.Masih banyak hal-hal yang perlu dikaji tentang sifat ini,untuk itu saya mengkaji surat At-Taghabun ayat 16 agar dapat lebih mengerti lagi larangan sifat kikir.

1.3 Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan utamanya yaitu untuk memenuhi tugas Tutorial, tujuan lainnya yaitu :
1. Menambah pemahaman saya mengenai isi kandungan Q.S.At-Taghaabun ayat 16.
2. Berusaha mengamalkan dan mengajarkan kepada orang lain sebagai bagian dari dakwah yang diperintahkan Allah SWT.
3. Dapat menerapkan ilmu-ilmu yang didapat setelah mengkaji Q.S.At-Taghaabun ayat 16 dalam kehidupan sehari-hari. Agar menjadi manusia yang senantiasa bertakwa kepada Allah SWT.
4. Menambah rasa bersyukur kita kepada Allah SWT atas karunia yang telah diberikan dan berbagai sifat tercela dalam diri kita
1.4 Metode Penulisan Makalah

Metode penulisan makalah ini dengan membaca beberapa kitab tafsir dan buku, serta membuka internet yang dapat menunjang pembuatan makalah sesuai materi yang dibutuhkan atau yang akan dibahas.


1.5 Sistematika Penulisan Makalah

Sistematika atau urutan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mencari dan membaca Kitab Tafsir serta buku-buku yang berkaitan dengan materi yang dibahas.
2. Menyusun kerangka karangan
3. Mengembangkan kerangka karangan

BAB II
PEMBAHASAN


Surat At Taghaabun adalah surat ke 64 dalam Al Qur'an. Surat ini tergolong surat madaniyyah, terdiri atas 18 ayat. Nama At Taghaabun diambil dari kata At Taghaabun yang terdapat pada ayat ke 9 yang artinya hari dinampakkan kesalahan-kesalahan.
Pokok-Pokok Isi
• Keimanan
o Seluruh isi alam bertasbih kepada Allah,
o Penjelasan tentang kekuasaan Allah serta keluasan ilmu-Nya
o Penegasan bahwa semua yang terjadi dalam alam ini adalah atas izin Allah.
• Hukum-hukum
o Perintah taat kepada Allah dan Rasul
o Perintah supaya bertakwa dan menafkahkan harta.
• Lain-lain
o Peringatan kepada orang-orang kafir tentang nasib orang-orang dahulu yang mendurhakai rasul-rasul
o Diantara isteri-isteri dan anak-anak seseorang ada yang menjadi musuh baginya
o Harta dan anak-anak adalah cobaan dan ujian bagi manusia.

2.1 Terjemahan Ayat.


Artinya :
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu(*). Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.
(*) Maksudnya : nafkahkanlah nafkah yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat.

2.2 Asbabun Nuzul

Imam Hakim mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, bahwa Abdu Yazid yang dikenal dengan nama panggilan Abu Rukanah telah menjatuhkan talak kepada istrinya yang bernama Ummu Rukanah, lalu ia kawin lagi dengan seorang wanita dari kalangan kabilah Muzayanah. Umu Rukanah mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah saw. untuk itu ia datang dan berkata kepadanya, "Wahai Rasulullah! Tidak sekali-kali dia menceraikan aku melainkan karena demi si pirang itu." Maka Allah menurunkan ayat ini, yaitu firman-Nya, "Hai Nabi! Apabila kamu menceraikan istri-istrimu hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar)..." (Q.S. Ath-Thalaq 1) Imam Dzahabi memberikan komentarnya, bahwa sanad hadis ini berpredikat lemah, dan matannya keliru, karena sesungguhnya Abdu Yazid tidak sempat masuk Islam. Imam Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Qatadah bersumber dari Anas r.a. yang telah menceritakan, bahwa Rasulullah saw. menceraikan Siti Hafshah, lalu Siti Hafshah kembali kepada keluarganya. Maka Allah menurunkan firman-Nya, "Hai Nabi! Apabila kamu menceraikan istri-istrimu hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar..." (Q.S. Ath-Thalaq 1) Kemudian ada yang berkata kepada Rasulullah saw., "Rujukilah dia karena sesungguhnya dia (Siti Hafshah) adalah wanita yang banyak berpuasa dan salat." Imam Ibnu Jarir mengetengahkan pula hadis ini secara mursal melalui Qatadah. Demikian pula Imam Ibnu Munzir mengetengahkan hadis ini secara mursal melalui Ibnu Sirin. Imam Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Muqatil sehubungan dengan firman-Nya, "Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu..." (Q.S. Ath-Thalaq 1) Muqatil mengatakan, bahwa kami telah mendengar, bahwasanya ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah bin Amr bin Ash, Thufail bin Harits, dan Amr bin Sa'id bin Ash.

2.3 Tafsir

Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan supaya manusia yang mempunyai harta, anak dan istri itu bertakwa kepada-Nya sekuat tenaga dan kemampuannya, sebagaimana dijelaskan yang demikian oleh sabda Nabi SAW:

إذا أمرتكم بأمر فأتو منه ما استطعتم وما نهيتكم عنه فاجتنبوه
Artinya:
Apabila saya perintahkan kamu dengan sesuatu maka laksanakanlah sekuat tenaga dan kemampuanmu dan apa yang saya larang melakukannya, maka jauhilah ia. (HR. Bukhari)
dan dijelaskan pula dalam ayat yang berbunyi:

اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (102)

Artinya:
Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Q.S Ali Imran: 102)
Selanjutnya Allah memerintahkan supaya mendengar dan patuh kepada apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya. Jangan terpengaruh pada keadaan sekelilingnya, di kiri dan kanannya, sehingga melanggar apa yang dilarang agama. Harta benda supaya dibelanjakan untuk meringankan penderitaan fakir miskin, menolong orang-orang yang memerlukan pertolongan, dan untuk menolong hal-hal yang berguna kepada umat dan agama, kepada yang membawa kebahagiaan dunia dan akhirat. Yang demikian itu jauh lebih baik daripada menumpuk harta dan memanjakan anak. Ayat ke 16 ini ditutup dengan satu penegasan bahwa orang yang menjauhi kebakhilan dan ketamakan pada harta adalah orang yang beruntung, akan mencapai keinginannya di dunia dan di akhirat, disenangi oleh teman-temannya. Di akhirat nanti ia sangat berbahagia, karena ia dekat pada Tuhannya, disenangi, diridai dan dimasukkan ke dalam surga.

2.4 Terjemahan Harfiah

Detail Surat At-Taghabun Ayat 16
فاتقوا : maka bertakwalah kamu
الله : Allah
ما : apa
استطعتم : menurut kesanggupanmu
واسمعوا : dan dengarlah
وأطيعوا : dan taatlah
وأنفقوا : dan belanjakan
خيرا : baik
لأنفسكم : bagi dirimu
ومن : dan barang siapa
يوق : dipelihara
شح : kekikiran
نفسه : dirinya
فأولئك : maka mereka itu
هم : mereka
المفلحون : orang-orang yang beruntung
2.5 Surat yang Berkaitan

Q.S.Al-Lail : 8-11

[92:8]
وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَى
Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasadirinya cukup,
[ 92:9 ]
وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى
serta mendustakan pahala yang terbaik,
[ 92:10 ]
فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى
maka kelak Kami akan menyiapkan baginya(jalan) yang sukar.
[ 92:11 ]
وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّى
Dan hartanya tidak bermanfaat baginyaapabila ia telah binasa.


Q.S.Al-Hasyr :

وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan siapa yang dipeliharadari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orangyang beruntung.

2.6 Hadist yang Berkaitan
1. Nabi SAW bersabda: “Tidaklah ada satu hari pun yang dilalui oleh setiap hamba pada pagi harinya, kecuali ada dua malaikat yang turun, berkata salah satu dari keduanya: Ya Allah berilah orang yang suka menginfakkan hartanya berupa ganti (dari harta yang diinfakkan tersebut), dan berkata (malaikat) yang lain: Ya Allah, berilah orang yang kikir kebinasaan (hartanya)”. (HR. Bukhari dan Muslim).
2. Demikian pula yang difirmankan-Nya dalam hadits qudsi: “Berinfaklah wahai anak Adam, niscaya engkau akan diberi balasan/gantinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
3. Perhatikan sabda Rasulullah SAW: “Tidaklah sedekah itu akan mengurangi harta (HR. Muslim)
4. Rasulullah SAW memerintahkan mereka untuk banyak-banyak bersedekah, walaupun mungkin ada di antara mereka yang tidak memiliki kelebihan harta, beliau SAW tetap memberikan dorongan untuk berinfak, bersedekah, dan memberikan apa yang dimiliki kepada siapa saja yang membutuhkan. Beliau SAW bersabda: “Wahai para wanita muslimah, janganlah seorang tetangga meremehkan untuk memberikan sedekah kepada tetangganya walaupun hanya sepotong kaki kambing” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
5. Kebinasaan yang akan ditimpa oleh orang-orang yang kikir tidak hanya di akhirat saja, bahkan Allah SWT menyegerakan azab bagi mereka di dunia. Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini: “Tidaklah suatu kaum mencegah dari memberikan zakat kecuali Allah akan menimpakan bala’ kepada mereka dengan paceklik.” (HR Ath Thabarani)

2.7 Kajian Ilmu
Sebagai seorang pendidik kita harus menjadi teladan bagi peserta didik .Seperti sabda Rasulullah saw “Aku hanya diutus sebagai seorang pendidik”.Juga dalam hadist lain beliau bersabda “Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.Sabda Nabi ini membuktikan bahwa islam mengapresiasiakan siapa pun yang berkecimpung dalam dunia pendidikan.Dan dipertegas dengan sabda yang lain “Yang terbaik diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya”.Dalam hadist yang sudah disebutkan menegaskan kepada kita bahwa profesi sebagai pendidik itu amat luhur.
Untuk itu,seorang pendidik harus menyadari betul keagungan profesinya dan harus menghiasi dirinya dengan akhlak yang terpuji,jiga tidak boleh kikir dalam menyampaikan pengetahuannya dan menganggap remeh semua aral yang merintangi tercapainya target utama.Sikap seperti ini akan mampu mendorong seorang pendidik untuk melakukan hal-hal besar dalam menjalani profesinya demi mendapatkan hasil yang maksimal.Sifat kikir bagi seorang gurudapat menghilangkan rasa kasih sayang.Yaitu rasa kasih sayang seorang pendidik kepada peserta didik.Dengan kata lain,orang yang kikir dengan ilmunya lebih buruk daripada orang kikir dengan uangnya.Guru yang baik akan senantiasa membagi ilmunya dengan peserta didiknya,sehingga peserta didiknya memiliki etika yang baik dalam berbagai hal.Sifat kikir sebagai pendidik sangatlah tidak baik,oleh karenanya Allah SWT mengatakan bahwa beruntunglah orang yang terpelihara dari kikir.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan


Harta seolah-olah sudah menjadi tolok ukur tinggi dan rendahnya status sosial seseorang di masyarakat. Sehingga tidaklah mengherankan jika kemudian harta menjadi buruan yang senantiasa diintai oleh para pemburunya. Bahkan bagi beberapa orang ada yang bersedia melakukan apapun, untuk bisa mendapatkan harta buruannya, walaupun dengan menghalalkan segala cara. Setelah mendapatkannya, sebagian dari kita, ada yang merasa berat untuk mengeluarkan sebahagian dari harta mereka untuk disedekahkan. Padahal dalam rezeki yang mereka dapatkan, ada hak bagi anak yatim dan kaum dhuafa.
Sedikitnya ada 3 kerugian yang akan dialami manusia saat dirinya dikuasai oleh sifat kikir atau pelit, dan hal itu tidak memberikan keuntungan sedikitpun baginya. Pertama, ia akan jauh dari Allah Swt, yang berarti tidak akan mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya. Kedua, ia akan jauh dari manusia, sebab tidak seorang pun yang suka bergaul dengan manusia kikir. Ketiga, berpeluang masuk ke dalam neraka, sebab hidupnya tiada lagi berarti. Di mata Allah Swt ia hina dan bagi manusia ia dianggap sebagai lawan. (Al hadits)

Sebagai pendidik hindari sifat kikir dengan etika seorang pendidik yaitu :
1. Mengajarkan dan mempraktikan etika islam
2. Menggunakan kata-kata yang bijak
3. Memperingati anak didiknya yang melakukan kesalahan
4. Menjawab pertanyaan anak didiknya
5. Menjaga kebersihan diri dan pakaiannya
6. Menghiasi wajahnya dengan senyuman



3.2 Saran
Saran menjadi pendidik yang sukses
1. Menguasai bidang pelajaran yang diasuh
2. Menjadi teladan dalam perkataan dan perbuatan
3. Mampu mengamalkan apa-apa yang diajarkan
4. Memiliki keluhuran akhlak dan tingkat pendidikan
5. Saling membantu dengan sesama pendidik
6. Menghiasi diri dengan sifat sabar dalam setiap hal

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar